Spirit Ramadhan Dihianati Acara Televisi

September 23rd, 2009 by dedyrahmat

Oleh: Dedy Rahmat

Bulan Ramadhan berakhir sudah. Bulan yang penuh berkah ini, telah kita lewati dengan aman dan tentram. Namun, ada beberapa masalah yang menurut saya memang perlu kita kritisi. Diantaranya adalah program tayangan-tayangan televisi selama bulan ramadhan. Rasa-rasanya program tayangan televisi yang menemani pemirsa selama bulan suci ini, cenderung lebih banyak mudharat-nya ketimbang manfaat (terutama acara yang disuguhkan pada malam hari hingga subuh).

Program-program televisi yang khusus digelar di bulan Ramadhan nyaris semuanya dengan judul “bernuansa ramadhan”. Dengan judul yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terkesan kental membawa dakwah ramadhan.

Menurut Kepala Bidang Infokom MUI Said, “Tayangan Ramadhan saat ini, belum akseleratif dengan spirit suci Ramadhan. Adegan kekerasan, penghinaan dalam guyonan tayangan komedi masih mendominasi untuk tontonan muslimin,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, beberapa waktu lalu. (diakses dari tvone.co.id, Kamis, 03 September 2009).

Sementara menurut Rektor Universitas Islam Indonesia Edy Suandi Hamid, dalam jumpa pers yang digelar di Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (6/9) beberapa tayangan ramadhan sudah masuk kategori tidak patut dan melanggar kode etik Komite Penyiaran Indonesia (KPI).

Acara Dtersebut, diantaranya; Happy Sahur, Sambil Buka Yuk (ANTV), Saatnya Kita Sahur, Opera Van Java Sahur, dan Insert Pagi-Sore (Trans Tv),Hur Sahur, Kiss Vaganza, Sahur Show (Indosiar).

Go Spot, Silet, Dahsyat, Manohara (RCTI),Gosip Pagi-Gosip Siang (Trans 7), Cinta Fitri, Was Was (SCTV), Curhat Bareng Anjasmara (TPI), Kiss Vaganza, Sahur Show (Indosiar), dan Obsesi Siang (Global TV).(diakses dari kompas.com, Minggu 6 September 2009)

Tayangan-tayangan tersebut, sarat dengan kata-kata makian, hinaan, dan kadang menjurus porno. Kata-kata dan sikap pelecehan yang sering muncul diantaranya menyamakan manusia dengan binantang dan pelecehan seksual. Lalu tindak kekerasan yang sering muncul adalah kekerasan berupa pukulan di kepala, walaupun hanya “trik”, namun tetap memberikan contoh yang vulgar. Sementara itu acara-acara “gosip show” tetap dengan gaya menampilkan membuka aib orang lain, membicarakan orang lain (yang terkadang tidak jelas antara kebenaran dan fitnah, masalah keluarga yang buruk, perselingkuhan, dll).

Acara-acara televisi tersebut, melanggar Pasal 36 Ayat 6 UU 32 /2002 tentang Penyiaran yang dengan tegas melarang “memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan atau mengabaikan nilai agama, martabat manusia Indonesia atau merusak hubungan internasional”. Lebih parah lagi, tayangan-tayangan itu bukan saja melanggar hukum negara, tetapi juga melanggar ketentuan agama! Tentu saja apa yang terungkap di atas, hanyalah sebagian contoh kecil dari permasalahan yang timbil dalam tayangan-tayangan televisi tersebut (anda sebagai pembaca artikel ini, tentu bisa menafsirkan sendiri contoh-contoh lainnya).

Dari analisa sederhana mengenai program-program televisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tayangan Ramadhan itu cenderung tidak mewakili spirit Ramadhan. Bahkan (maaf), pendapat lebih ekstrim bisa “menghakimi” tontonan menemani ibadah puasa itu dengan cap menodai kesucian Ramadhan itu sendiri. Karena, Bulan Ramadhan yang seharusnya tidak diisi dengan kata-kata makian dan hinaan (bercanda yang berlebihan, merendahkan harkat-martabat manusia) atau kata-kata dan sikap yang menjurus ke hal-hal porno atau perbuatan maksiat lainnya, justru malah tetap diisi dengan cara-cara yang sama seperti pada hari-hari bisa. Tentu saja, selain Ramadhan pun seharusnya budaya-budaya negatif itu pun sebaiknya dihentikan. Paling tidak, dieleminir.

Stasiun televisi melalui program-programnya merupakan “media belajar yang sangat efektif”. Dalam arti, jika tayangannya kasar dan vulgar, maka para “muridnya” (para pemirsa) tanpa disadari tengah mencermati sekaligus mempelajari tayangan yang disuguhkan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya sendiri belum pernah melakukan penelitian untuk “men-judge” bahwa tayangan televisi berdampak signifikan terhadap perilaku pemirsanya. Namun, dari beberapa penilitian ilmiah yang pernah saya baca tentang pengaruh acara televisi terhadap perilaku penontonnya, saya percaya bahwa program televisi bisa lebih dahsyat mempengaruhi pola hidup dan pola pikir manusia, terkadang melibihi pengaruh seorang guru di bangku sekolah. Apalagi jika kita maklumi, bahwa sebagian besar penontonnya adalah anak kecil, atau muda-mudi yang sedang dalam masa pembentukan jatidiri.

Coba saja kita tengok ke belakang, bagaimana seorang bocah SD di beberapa daerah Nusantara yang mencoba bunuh diri (sebagian berhasil diselamatkan sebagian lagi tewas) dengan cara menggantung diri karena masalah biaya sekolah, atau karena dimarahi orangtuanya. Perilaku nekat itu, terjadi tak lama setelah beberapa stasiun televisi memberitakan kejadian di suatu daerah, dan selang beberapa waktu kemudian menjadi “trend” yang “diminati banyak penggemar”. Lalu bocah-bocah SD yang memukul temannya hingga babak belur bahkan tewas, setelah mereka asyik menikmati tayangan Smack Down.

Apakah tayangan-tayangan humor yang vulgar atau “menjurus” bisa berakibat parah seperti contoh di atas dan apakah berpengaruh kepada manusia dewasa? Saya kira sama saja. Mungkin seperti tidak separah itu, meskipun pengaruhnya lebih lambat, namun karena tayangan dengan pola sama yang tak henti-hentinya, dari masa ke masa, suatu saat nanti akan turut membentuk jatidiri bangsa. Ibarat “siapa menuai padi akan memproleh panen di masa mendatang”. Jadi, tayangan-tayangan negatif itu ibarat bom waktu yang kita ciptakan sendiri. Stasiun televisi hanya berpikir komersil sementara soal akibat yang bisa ditimbulkan, mereka entah tidak mau tahu, atau tidak menyadarinya, wallaahu alam.

Parahnya lagi, pemirsa kita seperti terhipnotis tayangan televisi, dan menerima hal yang negatif sebagai sesuatu yang biasa atau lumrah. Ketika MUI mengkritik program-program stasiun swasta, justru masyarakatlah yang menjadi “pengacara gratis”. Ini bisa kita lihat melalui komentar-komentar masyarakat yang ditayangan secara online di situs-situs tv yang bersangkutan. Mereka justru balik mengkritik MUI. Bahkan kadang dengan kata-kata yang sangat pedas dan vulgar diiringi dengan makian yang tidak pantas (nah, apakah ini juga pengaruh dari acara tv?). Mungkin ini juga sebagai bagian dari teori sosiologi yang menegaskan bahwa ”di tengah-tengah masyarakat gila, yang normal dianggap sinting” (maaf saya tidak bermaksud vulgar, ini hanya sekedar perumpaamaan).

Kritik atau serangan balik para pemirsa terhadap pendapat MUI itu menurut saya seharusnya tidak perlu. Karena, komentar-komentarnya seperti tergiring secara emosional saja. Reaktif namun tidak kritis. Saya kira semua orang dalam hati terdalamnya memiliki alat sensor untuk membedakan yang mana kebenaran dan yang mana sebagai suatu kesalahan. Jadi tanpa harus menyitir Al-quran, Hadits, atau buku pelajaran, sesungguhnya mereka sudah bisa menentukan apakah yang ia saksikan sudah tepat atau belum. Persoalannya sebagai penonton atau komentator, akal sehat yang menjadi tolak ukur atau emosi yang membimbing?

Sekarang sudah saatnya para pelaku seni dan para produser acara-acara “modern yang tradisional” itu untuk mempersiapkan acara yang lebih berisi luar-dalam. Yang tidak membuat pemirsa sekedar bahagia atau tertawa terbahak-bahak sesaat, namun setelah itu tidak ada pesan penting yang terngiang di otak.

Tanpa bermaksud beranalisa karena sekedar like and dislike atau membandingkan karena sentimen semata, jika boleh berpendapat, tayangan sinetron “Para Pencari Tuhan” yang ditayangkan SCTV nampak jauh lebih berkualitas dibanding acara-acara Ramadhan lainnya (selain acara ceramah atau dakwah secara khusus). Apalagi jika dibandingkan dengan acara lain pada jam yang sama. Sinetron ini, disampaikan dengan sederhana, mudah dicerna, dengan diselipi humor ringan dan cerdas. Walaupun disampaikan sederhana, sesungguhnya sinetron ini sarat makna dan banyak mengutip ayat Al-quran dan Hadits. Selain kita terhibur, kita sedang belajar mengenai tuntunan tuhan dan rasulnya.

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna, sekaligus tidak ada tayangan yang sempurna. Tetapi paling tidak sinetron Para Pencari Tuhan insyaallah jika dibandingkan acara lain, lebih sedikit mudharatnya dan lebih banyak manfaatnya. Seharusnya para produser belajar banyak dari program ini, dan bersaing secara sehat mempersiapkan program yang lebih berisi.

Mohon maaf jika artikel ini menyinggung sebagian orang, atau tidak berkenan membacanya. Ini hanya sekedar analisa “setengah-setengah”. Bukan sedang menggurui anda. Sebaliknya lebih mengingatkan diri saya sendiri. Jika tidak bermanfaat buang saja. Jika ada setetes pesan positif, semoga membawa berkah bagi saya dan anda semua. Wassalam.

Menjadi Bangsa yang Percaya Diri

Agustus 26th, 2009 by dedyrahmat

graphic21

Oleh: Dedy Rahmat

Saya ingin berbagi cerita sedikit dengan semua teman-teman soal penggunaan simbol negara asing atau atributnya yang sering digunakan oleh rakyat kita. Terutama kaum muda-mudi. Ini mungkin persoalan sepele, dan tidak penting sama sekali. Tapi persoalan ini sempat membuat saya merenung tentang sebuah masalah; apakah ini ada kaitannya dengan terkikisnya nasionalisme? Sebelum saya berbicara lebih jauh, mohon dimengerti bahwa apa yang saya sampaikan tidak ada kaitannya dengan sentimen terhadap bangsa lain. Dalam tulisan ini, saya hanya melihat dari sisi kita saja, bukan karena kebencian apalagi provokasi untuk tidak menghormati bangsa lain, beserta simbol-simbol negaranya.

Tidak “PD” dengan Warna Bendera Sendiri

bendera-2Sebenarnya pikiran ini sudah lama terngiang dalam benak saya, namun sebelumnya hanya sebatas lamunan dan tidak pernah secara panjang lebar saya membicarakan atau berdiskusi dengan orang lain tentang masalah ini. Kita tentu sering melihat bangsa kita (terutama kaum muda) menggunakan simbol-simbol negara asing. Terutama bendera atau lambang negara asing yang menempel pada kaos, jeket, sepatu, styker, kaos kaki, tas, dll. Yang membuat saya heran, kenapa mereka begitu bangga menggunakan simbol-simbol negara asing?

Kenapa mereka tidak bangga terhadap simbol-simbol negaranya sendiri? Dan yang membuat saya bertanya-tanya kembali, kita juga harus mengakui bahwa sombol negara kita tidak sepopuler simbol negara asing tersebut (terutama, maaf simbol negara Amerika atau Inggris misalnya. Sekali lagi saya menyebut negara ini tidak ada sentimen tertentu sama sekali!).

Bahkan saya kira yang terjadi justru sebaliknya, bendera kita kita tidak populer di Amerika, Inggris, atau negara Eropa lainnya. Dalam artian, di sana simbol negara kita itu tidak digunakan oleh rakyatnya sebagaimana yang terjadi di Indonesia (sederhananya, rakyat Amerika atau Inggris, tidak sengaja datang ke toko baju untuk membeli kaos berbendera Indonesia, misalnya). Apalagi di Amerika. Negara ini terkenal dengan nasionalisme yang tinggi. Rakyat di sana bangga menggunakan atribut bangsanya sendiri. Lalu kalau di sana saja rakyatnya bangga terhadap simbolnya sendiri, kenapa kita tidak bangga dengan simbol negara kita sendiri?

Ada sebuah persoalan yang sangat mendasar bagi saya, yang membuat kenapa ini terjadi. Mungkin bagi sebagian orang (maaf), telah terjadi sebuah pergeseran nilai yang membuat mereka kehilangan kepercayaan diri. Tanpa mereka sadari, sesungguhnya mereka telah memperlihatkan betapa mereka merasa lemah dihadapan bangsa lain (anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat ini). Masalah ini menurut saya cukup memprihatinkan. Betapa tidak! Dulu para pejuang kemerdekaan di seluruh Nusantara, bersusah payah berupaya “mengibarkan merah putih” selama 350 tahun masa penjajahan.

Merah Putih Terpancang Lewat Perjuangan Berat

graphic5Sebelum the founding fathers Soekarno - Hatta dengan lantang membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, telah jutaan nyawa melayang melawan koloni. Proklamasi itu adalah “bayaran” terhadap jutaan rakyat yang menderita ratusan tahun di bawah penjajahan Belanda, Portugis, dan Jepang. Betapa rakyat kita dulu dengan penuh suka cita dan bangga mengibarkan Sang Saka Merah Putih, ketika proklamasi didengungkan ke seluruh Dunia.

Kebanggaan dan rasa haru yang pasti tak terkira, mengingat disamping suka cita itu, kakek-buyut, ayah-ibu, sanak saudara dan kerabat mereka telah mati akibat siksaan kaum penjajah, dengan menggenaskan. Ada yang meregang nyawa karena pertempuran, diadu domba, pembantaian ribuan rakyat sipil, bahkan meninggal dunia saat dipaksa menjadi pekerja rodi, yang bekerja seperti “binatang” hingga badan tinggal “tulang dan kulit” karena beratnya pekerjaan pengerukan sumber daya alam yang ketika itu dikuras habis penjajah

Mengingat betapa beratnya perjuangan “menancapkan bendera Merah Putih” itu, maka sudah sepatutnya kita bangga dengan sombol negara sendiri. Kita harus bangga, karena simbol kedaulatan negara itu akhirnya dapat berkibar dengan gagah, lewat perjuangan yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Melalui darah berlimpah ketika para pahlawan dengan berani melawan tank dan peralatan tempur modern dengan bambu runcing.

Jadilah Kaum Percaya Diri - Menghargai Jasa Pahlawan

tentara-tkrNamun demikian, bangga terhadap bangsa sendiri sebagai bagian dari nasionalisme itu tentu tidak bisa dibuktikan dengan sekedar menggunakan atribut negara sendiri. Tetapi paling tidak itu adalah upaya kita untuk “percaya pada diri sendiri”, menjadi bangsa yang berani dan menghormati jasa para pahlawan yang tentunya mereka tidak ingin anak-cucunya kehilangan jati diri terhadap bangsanya sendiri.

Seandainya para pejuang yang telah gugur itu masih hidup dan melihat kenyataan bahwa anak cucunya kehilangan kebanggaan akan simbol negaranya sendiri, mungkin mereka akan menangis, karena dalam bayangan mereka “perjuangan hingga titik darah penghabisan” itu sejatinya membuat kita menjadi bangsa yang “penuh percaya diri!”.

sumber gambar (berdasarkan urutan posting):

http://www.atlasnetwork.org

http://gerrilya.files.wordpress.com

http://id.wikipedia.org

http://swaramuslim.com

Halo dunia!

Agustus 25th, 2009 by dedyrahmat

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!